Aku mendengar Jorge Luis Borges bercerita tentang Al-Zahir. Ia bercerita bahwa di Gujarat akhir abad delapan belas, Al-Zahir adalah seekor harimau, di Persia ia adalah sebuah
astrolabe yang ditenggelamkan Nadir Khan ke laut. Di penjara penjara Mahdi, sepanjang tahun 1892-an, ia adalah kompas kecil yang disentuh oleh Rudolf Carl von Slatin, terlipat dalam gulungan turban. Di ghetto Tetuãn, ia adalah dasar sebuah sumur.
Kemudian Al-Zahir sampai ke tangan Borges dalam wujud sekeping koin.
Aku suka saat Borges berkata uang adalah abstrak, uang adalah kala masa depan, uang adalah
future tense. Ia bisa jadi sebuah sore di daerah pinggiran kota, atau musik oleh Brahm. Ia bisa jadi peta peta, atau catur, atau kopi (ah, aku suka ini!). Ia bisa jadi kata kata Epictetus yang mengajari kita untuk membenci emas. Ia adalah seorang Proteus yang lebih serbaguna daripada Proteus di pulau Pharos.
Belakangan Al-Zahir datang kepadaku dan ia adalah seorang laki laki. Di matanya dunia adalah
maté, tembakau hitam. Ia senang mengenalkan diri sebagai muazin dari Kordoba.
Memimpikannya adalah gila, bahwa ia telah berpindah dari abad ke abad, dari wujud ke wujud. Dan Al-Zahirku bahkan lebih indah daripada saat ia menjelma kepingan drachma milik Laïs atau pilar pualam di masjid Kordoba.
Lebih tajam dan menawan dari Al-Zahir sang harimau.
Aku pun menisbatkan wajahnya di mimpi mimpiku yang cair dan yang lembut dan yang kelam.
Al-Zahirku adalah ia yang kuasa menyalin hari hariku di masa kini untuk cetak biruku di masa depan.
Al-Zahirku adalah engkau, Mikail.